Mengenal SIstem Pemosisi Global

Sistem Pemosisi Global (bahasa InggrisGlobal Positioning System (GPS)) adalah sistem untuk menentukan letak di permukaan bumi dengan bantuan penyelarasan (synchronization) sinyal satelit. Sistem ini menggunakan 24 satelit yang mengirimkan sinyal gelombang mikro ke Bumi. Sinyal ini diterima oleh alat penerima di permukaan, dan digunakan untuk menentukan letak, kecepatan, arah, dan waktu. Sistem yang serupa dengan GPS antara lain GLONASS RusiaGalileo Uni EropaIRNSS India.

 

Sistem ini dikembangkan oleh Departemen Pertahanan Amerika Serikat, dengan nama lengkapnya adalah NAVSTAR GPS (kesalahan umum adalah bahwa NAVSTAR adalah sebuah singkatan, ini adalah salah, NAVSTAR adalah nama yang diberikan oleh John Walsh, seorang penentu kebijakan penting dalam program GPS).[2] Kumpulan satelit ini diurus oleh 50th Space Wing Angkatan Udara Amerika Serikat. Biaya perawatan sistem ini sekitar US$750 juta per tahun,[3] termasuk penggantian satelit lama, serta riset dan pengembangan.

GPS Tracker atau sering disebut dengan GPS Tracking adalah teknologi AVL (Automated Vehicle Locater) yang memungkinkan pengguna untuk melacak posisi kendaraan, armada ataupun mobil dalam keadaan Real-Time. GPS Tracking memanfaatkan kombinasi teknologi GSM dan GPS untuk menentukan koordinat sebuah obyek, lalu menerjemahkannya dalam bentuk peta digital.

Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Sistem_Pemosisi_Global

Kota Kayuagung

Kota Kayu Agung adalah sebuah kecamatan dan merupakan ibukota Kabupaten Ogan Komering IlirSumatera SelatanIndonesia. Kota ini terletak pada jalur strategis, kenapa demikian. Karena Kayu Agung Salah Satu Kota Transit yang terletak di Jalur Lintas Timur, yang merupakan jalur utama dari Bandar Lampung ke Palembang maupun sebaliknya. Kota ini memiliki luas 144,53 km² dan berpenduduk 64.584 ribu jiwa (2011). Dengan Kepadatan penduduk 446 jiwa/km². Dan merupakan salah satu Kota Terpadat Ke-2

setelah Palembang.

Kayuagung sebuah kota yang terletak di lintas timur sumatera, Salah satu dari Kabupaten dari Provinsi Sumatera Selatan (Palembang), Kayuagung yang berjarak 65 KM dari pusat kota Palembang, Kayuagung merupakan Daerah Tingkat II di provinsi sumatera selatan. Kayuagung merupakan ibukota Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI).

 

Gambaran Umum Kota Kayu Agung

Kota Kayu Agung adalah sebuah kecamatan dan merupakan ibukota Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan, Indonesia. Kayuagung sebuah kota yang terletak di lintas timur sumatera, Salah satu dari Kabupaten dari Provinsi Sumatera Selatan (Palembang), Kayuagung yang berjarak 65 KM dari pusat kota Palembang, Kayuagung merupakan Daerah Tingkat II di provinsi sumatera selatan. Kayuagung merupakan ibukota Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI).

Kayuagung Terdiri dari 10 kelurahan (Morge Siwe): Jua-jua, Sidakersa, Cintaraja Mangunjaya, Paku, Sukadana, Kedaton, Kotaraya, Perigi. Kayuagung Asli. Nama Kayuagung secara umum berasal dari sebuah sejarah, dimana pada zaman dahulunya, daerah kota kayuagung terdapat pohon-pohon yang berukuran besar, bahkan ada yang sampai berdiameter 4 meter , kemudian disimpulkanlah oleh para petua Pohon itu berarti Kayu sedangkan Besar Itu Agung. mungkin andapun secara tidak sengaja pernah melihat pohon berukuran besar di kota anda, kemungkinannya itu merupakan pohon kayuagung, tapi bukan berarti setiap pohon yang besar itu merupakan pohon kayuagung, ciri khas pohon Kayuagung itu berukuran besar memiliki urat pohon yang timbul dan memiliki akar yang besar dan menjular, selain itu juga terdapat akar yang menjular dari atas kebawah, jadi dari sebuah pohonlah nama dari kota kayuagung itu.

Kecamatan Kota Kayuagung terdiri atas 11 kelurahan ; yaitu Kelurahan Kayuagung (asli ), Perigi, Kutaraya, Kedaton, Sukadana, Mangunjaya, Sidakerda, jua-jua, Cintaraja, dan Tanjung Rancing, Serta 14 desa ; yaitu Desa Bulu Cawang, Lubuk Dalam, Banding Anyar, Anyar, Muara Baru, Kijang Ulu,Celika, Tanjung Menang. Bagian tersebut penutur Bahasa Kayuagung berada di wilayah Kecamatan Kota Kayuagung, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan. Wilayah ini merupakan ibukota Kabupaten OKI. Penduduk utama penuturan Bahasa Kayuagung tergabung dalam suatu wilayah yang disebut morge siwe ( marga sembilan ); yaitu sembilan kelompok masyarakat setingkat desa/ kelurahan di era sekarang. Sembilan marga tersebut adalah Kelurahan Kayuagung ( asli ), Perigi, Kutaraya, Kedaton, Sukadana, Paku, Mangun jaya, Sida kersa, dan jua-jua. Dengan demikian dari 11 kelurahan yang ada di kecamatan Kota Kayuagung, dua di antaranyalah yang bukan menjadi penduduk penuturan bahasa Kayagung, yaitu Kelurahan Kayuagung (asli) dan Tanjung Rancing. Selain di wilayah Kota Kayuagung Bahasa Kayuagung juga ada di wilayah lempuing dan Mesuji (masih di Kabupaten OKI). Hal ini bisa di maklumi karena berdasarkan sejarahnya wilaya Lempuing dan Mesuji merupakan jalur kedatangan orang-orang Kayu Agung dari Lampung.

Di wilayah Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) terdapat beberapa daerah, di antaranya adalah bahasa Kayuagung, Komering, Pedamaran, Melayu Palembang, Jawa, dan beberapa bahasa atau dialek lainya. Bahasa Indonesia juga dipergunakan secara luas, selain bahasa seperti bahasa Inggris dan Arab Yang penggunananya sangat terbatas. Kabupaten Ogan Komering Ilir ( OKI) beribukota di Kayuagung. Berdasarkan sejarahnya, wilayah ini didukung oleh apa yang oleh masyarakat setempat disebut dengan morge siwe ( atau Sembilan Marga). Marga di seantero Sumatera Selatan dikenal dengan suatu kawasan yang dahulunya setara di atas desa/ kelurahan. Saat ini wilayah morge siwe berada di bawah pemerintah administrasi Kecamatan Kota Kayu Agung. Sembilan marga tersebut adalah Kelurahan Kayuagung (asli), Perigi, Kutaraya, Kedaton, Sukadana, Paku, Mangun jaya, Sidakersa, dan jua-jua.

Kayuagung ibukota dari Kabupaten Ogan Komering Ilir merupakan Pemerintah Daerah Tingkat II di Sumatera Selatan yang luasnya sekitar 19.023,47 kilometer persegi yang secara geografis terletak antara 104 2′-106 o’ derajat Bujur Timur dan 4o 30′-4o 15 derajat Lintang Selatan. jumlah penduduk dalam sensus 2010 mencapai kurang-lebih 62.000 ribu jiwa lebih, mayoritas penduduknya beragama Islam.[2]

Sosial Budaya Kependudukan OKI

Kabupaten Ogan Komering Ilir terbagi atas beberapa suku bangsa baik suku asli Ogan Komering Ilir maupun pendatang dari Jawa, Bali dan Sunda. Adapun suku asli Penduduk Kabupaten Ogan Komering Ilir terdiri atas: (1) Suku Ogan : meliputi penduduk asli tersebar di Desa Sugih Waras, Buluh Cawang, Teleko, sebagian Sirah Pulau Padang, Pampangan, Keman, Pangkalan Lampam, dan Tulung Selapan, berbahasa Ogan. (2) Suku Komering: meliputi penduduk asli di sepanjang sungai Komering mulai dari Kecamatan Tanjung Lubuk sampai Kota Kayuagung, sehari-hari berbahasa Komering. (3) Suku Kayuagung: meliputi penduduk asli di Kecamatan Kota Kayuagung kecuali Celikah dan Tanjung Rancing, sebagian penduduk di Kecamatan Lempuing dan desa-desa perairan sungai Mesuji di Kecamatan Mesuji dan Kecamatan Sungai Menang, sehari-hari berbahasa asliKayuagung. (4) Suku Penesak/Danau: meliputi penduduk asli Kecamatan Pedamaran tersebar di desa-desa dalam Kecamatan Pedamaran tidak termasuk penduduk Sukaraja, berbahasa Melayu Palembang. (5) Suku Pegagan : meliputi penduduk asli di Kecamatan Jejawi, Sirah Pulau Padang, Tanjung Rancing dan Celikah Kecamatan Kota Kayuagung, berbahasa Pegagan. (6) Suku Jawa, Sunda dan bali : meliputi penduduk di Kecamatan Lempuing, Lempuing Jaya, Mesuji, Mesuji Raya, Mesuji Makmur, Sungai Menang, Air Sugihan, Pedamaran Timur dan sebagian penduduk di Kecamatan Teluk Gelam, Bahasa yang mereka gunakan adalah bahasa sunda atau jawa dan untuk pergaulan dengan penduduk setempat menggunakan Bahasa Indonesia.

Penduduk

Nama Kayuagung secara umum berasal dari sebuah sejarah, dimana pada zaman dahulunya, daerah kota kayuagung terdapat pohon-pohon yang berukuran besar, bahkan ada yang sampai berdiameter 4 meter , kemudian disimpulkanlah oleh para petua Pohon itu berarti Kayu sedangkan Besar Itu Agung. mungkin andapun secara tidak sengaja pernah melihat pohon berukuran besar di kota anda, kemungkinannya itu merupakan pohon kayuagung, tapi bukan berarti setiap pohon yang besar itu merupakan pohon kayuagung, ciri khas pohon Kayuagung itu berukuran besar memiliki urat pohon yang timbul dan memiliki akar yang besar dan menjular, selain itu juga terdapat akar yang menjular dari atas kebawah, jadi dari sebuah pohonlah nama dari kota kayuagung itu.

Kecamatan Kota Kayuagung terdiri atas 11 kelurahan ; yaitu Kelurahan Kayuagung (asli ), Perigi, Kutaraya, Kedaton, Sukadana, Mangunjaya, Sidakerda, jua-jua, Cintaraja, dan Tanjung Rancing, Serta 14 desa ; yaitu Desa Buluh Cawang, Lubuk Dalam, Banding Anyar, Anyar, Muara Baru, Kijang Ulu,Celika, Tanjung Menang,Tanjung Serang, Serigeni Baru, Serigeni Lama, Arisan Buntal dan Tanjung Lubuk. Bagian tersebut penutur Bahasa Kayuagung berada di wilayah Kecamatan Kota Kayuagung, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan. Wilayah ini merupakan ibukota Kabupaten OKI. Penduduk utama penuturan Bahasa Kayuagung tergabung dalam suatu wilayah yang disebut morge siwe ( marga sembilan ); yaitu sembilan kelompok masyarakat setingkat desa/ kelurahan di era sekarang. Sembilan marga tersebut adalah Kelurahan Kayuagung ( asli ), Perigi, Kutaraya, Kedaton, Sukadana, Paku, Mangun jaya, Sida kersa, dan jua-jua. Dengan demikian dari 11 kelurahan yang ada di kecamatan Kota Kayuagung, dua di antaranyalah yang bukan menjadi penduduk penuturan bahasa Kayagung, yaitu Kelurahan Kayuagung (asli) dan Tanjung Rancing. Selain di wilayah Kota Kayuagung Bahasa Kayuagung juga ada di wilayah lempuing dan Mesuji (masih di Kabupaten OKI). Hal ini bisa di maklumi karena berdasarkan sejarahnya wilaya Lempuing dan Mesuji merupakan jalur kedatangan orang-orang Kayuagung dari Lampung.

Di wilayah Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) terdapat beberapa daerah, di antaranya adalah bahasa Kayuagung, Komering, Pedamaran, Melayu Palembang, Jawa, dan beberapa bahasa atau dialek lainya. Bahasa Indonesia juga dipergunakan secara luas, selain bahasa seperti bahasa Inggris dan Arab Yang penggunananya sangat terbatas. Kabupaten Ogan Komering Ilir ( OKI) beribukota di Kayuagung. Berdasarkan sejarahnya, wilayah ini didukung oleh apa yang oleh masyarakat setempat disebut dengan morge siwe ( atau Sembilan Marga). Marga di seantero Sumatera Selatan dikenal dengan suatu kawasan yang dahulunya setara di atas desa/ kelurahan. Saat ini wilayah morge siwe berada di bawah pemerintah administrasi Kecamatan Kota Kayuagung. Sembilan marga tersebut adalah Kelurahan Kayuagung (asli), Perigi, Kutaraya, Kedaton, Sukadana, Paku, Mangun jaya, Sidakersa, dan jua-jua.

Kayuagung ibukota dari Kabupaten Ogan Komering Ilir merupakan Pemerintah Daerah Tingkat II di Sumatera Selatan yang luasnya sekitar 21.469,90 kilometer persegi yang secara geografis terletak antara 104 2′-106 o’ derajat Bujur Timur dan 4o 30′-4o 15 derajat Lintang Selatan. jumlah penduduk dalam sensus 2010 mencapai kurang-lebih 71.667 ribu jiwa lebih, mayoritas penduduknya beragama Islam.

Iklim di Kayu Agung, Ibu Kota Kabupaten Ogan Komering Ilir tergolong dalam Tropik Basah dengan curah hujan rerata tahunan > 2.500 mm/tahun dan jumlah hari hujan dan hari hujan rata-rata > 116 hari/tahun. Musim kemarau umumnya berkisar antara bulan Mei sampai Oktober setiap tahunnya, sedangkan musim penghujan berkisar antara bulan November sampai bulan April. Penyimpangan musim biasanya terjadi sekali dalam lima tahun, berupa musim kemarau yang lebih panjang dari musim penghujan, dengan rata – rata curah hujan lebih kurang 1.000 mm/tahun dengan rata-rata hari hujan 60 hari/tahun.

 

JENIS WISATA DAN BUDAYA

 

Midang

(Warisan Budaya Tak Ternilai) Kayuagung memiliki khasanah budaya yang kuat dan kental. Suku Kayuagung yang mendiami wilayah Kota Kayuagung dan sekitarnya selalu menjunjung tinggi adat istiadat dalam kehidupan sehari-hari berbagai segi kehidupan seperti kelahiran bayi, pernikahan, sampai kematian diatur dan dituntun oleh adat istiadat budaya setempat.

Midang (tradisi arak-arakan yang diiringi musik tradisional seperti tanjidor) merupakan agenda nasional dalam kunjungan wisata lokal maupun mancanegara yang dimiliki Kabupaten OKI khususnya. Tradisi yang telah ada pada abad 17 yang lalu ini berawal dari adanya persyaratan keluarga perempuan dalam menikahkan putra-putri mereka. Sang putri merupakan keluarga dari keturunan orang terpandang pada waktu itu.

Sementara calon pengantin laki-laki berasal dari keluarga miskin yang berkepribadian luhur. Persyaratan itu diantaranya pihak calon laki-laki harus menyediakan semacam kereta hias yang dibentuk menyerupai naga yang disebut dengan juli (karena nama pengantin perempuan bernama Juliah). Kereta ini dipergunakan untuk untuk membawa kedua orang tua calon pengantin laki-laki yang bertandang ke rumah pengantin perempuan setelah ijab Kabul; pengantin laki-laki dan perempuan diapit oleh kedua orang tuanya diarak keliling kampung. Berkat keluhuran budi keluarga mempelai laki-laki, semua permintaan keluarga mempelai perempuan ini dapat dipenuhi. Inilah asal muasal budaya Midang yang masih dilestarikan sampai saat ini.

Midang dalam perkembangannya sesuai dengan fungsi dan hakekatnya dapat dibagi menjadi 2 macam, yaitu: (1) Midang Begorok yakni arak-arakan yang menjadi bagian prosesi pernikahan yang bersifat besar-besaran, termasuk juga sunatan, atau pun persedekahan lainnya; (2) Midang Bebuke (Midang Lebaran Idul Fitri) yang disebut demikian karena dilakukan untuk memeriahkan hari Raya Idul Fitri tepatnya pada hari ketiga dan keempat Hari Raya idul Fitri. Midang Bebuke ini disebut juga Midang Morge Siwe (Sembilan Marga) karena diikuti oleh seluruh marga yang ada di wilayah karesidenan. Pemerintah Daerah Kabupaten OKI menyikapi tradisi midang sebagai warisan tradisi budaya leluhur yang sangat mahal nilai karakteristiknya. Tradisi ini merupakan aset budaya yang sangat diperhatikan disamping tradisi lainnya di Kabupaten OKI. Kondisi midang sampai saat ini masih sangat lestari bahkan berkembang menjadi wisata budaya Primadona di OKI. Midang telah menjadi nilai tradisi budaya unik di negeri pertiwi. Saat ini midang sudah dijadikan suatu kelengkapan karnafal Budaya di OKI yang dilaksanakan setiap tahunnya

Mulah

Malam mulah adalah malam menjelang akan dilaksanakan prosesi akad nikah pada esok harinya. Secara adat di era 80- an bahwa Malam Mulah itu adalah malam bagi pihak Keluarga dan Tetangga untuk bermasak-masak guna persiapan Hari persedekahan. Sedangkan pihak mudamudinya mengadakan malam tetabuhan semacam Malam Gembira. Pada saat itu pasangan Calon penganten berada di antara muda-mudi yang hadir, Baik muda-mudi yang datang dari kampung /dusunnya sendiri maupun dari luar dusun. Secara adat tempo dulu, pasangan Calon Penganten berkali-Kali naik-turun/keluarmasuk Rumah untuk berganti-ganti pakaian sebanyak 12 Kali. Pakaian yang digunakan Calon Mempelai Perempuan disebut “Pesakin”, yang dipakai Calon Penganten Laki-laki adalah satu stel dengan kain Calon Penganten Perempuannya. Perempuan memakai kebaya panjang, sedangkan laki-laki memakai stelan jas, peci dan memakai handuk. Namun karena adanya pergeseran nilai, Calon Mempelai Laki-laki terkadang hanya melakukan ganti pakaian sebanyak 5 atau 3 Kali Saja.

Kunganyan

Adalah bagian dari prosesi Pernikahan dalam Masyarakat suku Kayuagung. Kungayan adalah sekelompok bapakbapak dari pihak Calon Mempelai Perempuan yang kesemuanya adalah Keluarga dan Tetangga Calon penganten Perempuan, yang diundang oleh pihak Keluarga Calon mempelai laki-laki untuk menyaksikan jalannya ijab qobul. Rombongan mereka disebut rombongan Suami “ungaian” kegiatannya disebut Kungayan.

Tarian Daerah

Tari Penguton Dari sejarahnya, tarian ini lahir pada tahun 1889 dan pada tahun 1920, oleh keluarga Pangeran Bakri, tarian ini disempurnakan untuk penyambutan kedatangan Gubernur Jendral Belanda. Sejak itu tarian ini dijadikan sebagai tari sekapur sirih Kayuagung. Tarian ini ditarikan oleh Sembilan orang gadiscantik yang dipilih dari Sembilan Marga yang ada di Kayuagung menggunakan iringan musik perkusi seperti Gamelan, gong, gendang yang sebagian instrumen tersebut merupakan hadiah dari Kerajaan Majapahit pada abad ke 15 dibawa oleh utusan Patih Gajah Mada. Konon alat-alat ini masih ada dan digunakan pada saat menyambut kedangan Presiden Soekarno saat pertama kali berkunjung ke Bumi Bende Seguguk pada tahun 1959. Pada tahun 1992 tari ini dibakukan sebagai tari sekapur sirih Kabupaten OKI.

Tari Gopung Tari Gopung Tari Gopung merupakan tari-tarian yang digunakan untuk penobatan rajaraja. Tarian ini lahir pada tahun 1778 di suku Bengkulah Komering. Fungsi tarian ini sampai sekarang masih eksis digunakan sebagai tari penobatan pangkat dan penyambutan tamu pemerintah di Kecamatan Tanjung Lubuk.

Pakaian Adat pepek

Nama-Nama Kain Adat Dan Baju Adat Di Kayuagung

  • Angkinan: Baju pengantin/baju kebesaran adat Kayuagung
  • Kebaya Kurung Panjang: ciri yang memakai sudah bersuami
  • Kebaya Kurung Pendek/bunting: cirri yang memakai masih perawan
  • Kebaya Tapuk: Ciri yang memakai sudah bersuami
  • Kebay,\a Tojang: untuk undangan kehormatan/misal si ibu pengantin lakilaki diundang menghadiri hidangan atau kedulangan atau untuk menghadiri pernikahan
  • Balah Buluh: Pakaian laki-laki yang dilengkapi dengan Kepudang atau kopiah (kain berada di luar baju)
  • Teluk Belango: sejenis baju untuk kaum laki-laki untuk kepentingan adat dengan memakai peci dan kain dibalik baju
  • Sarung Pelikat:bentuk kain untuk lakilaki yang terbuat dari jerat jerami yang bermotif kotak-kotak besar ataupun kecil
  • Sarung bugis: untuk laki-laki
  • Kain Putungan (kain panjang) untuk pasangan kebaya pendek maupun kurung maupun kebaya biasa
  • Sarung Sungkitan (songket): pasangan Angkinan juga bisa untuk kebaya biasa

Untuk kaum wanita, nama-nama pakaian adatnya adalah: Beribit, Pelangi dan Jupri. Sedangkan motif yang utama adalah: Motif bunga biduk, Motif bunga oteh, Motif bunga Payi, Motif bunga Inton, Motif bunga Kipas, Motif Kemplang, Motif Jelujur, dan Motif bunga Kecubung.

 

sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Kota_Kayu_Agung,_Ogan_Komering_Ilir

Musrenbang Tulung Selapan

Musrenbang Tulung Selapan

Kayuagung- kegiatan Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) tahun 2015 ini disetiap kecamatan cukup banyak usulan dari masyarakaat yang masuk. Seperti kegiatan Musrenbang kecamatan Tulung Selapan, Senin (19/1) lalu,masyarakat mengahrapkan pembangunan gedung Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di beberapa  desa.

Dikatakan, kepala Bappeda OKI, Makruf CM, SIP, MM diwakilkan Sekretarisnya Ir. Erwin Agusdy MP saat kegiatan Musrenbang Tulung Selapan, bahwa usulan masyarakat untuk pembangunan

ditahun yang akan datang yakni berupa pembangunan gedung PAUD terdapat di Desa Kuala Duabelas, Simpang Tiga Abadi, Pulau Beruang, Peyandingan, Toman, dan Tulung Seluang. Termasuk tenaga pengajarnya usulan dari masyarakat.

Dalam Musrenbang itu dihadiri oleh Camat Tulung Selapan Ari Panani, Sekcam, KApolsek, UPTD Diknas, UPTD KB, Kepala Puskesmas, UPTD Pasar, UPTD Pertanian, para kades serta anggota DPRD OKI Nanda (Partai Gerinda) merupakan dapil III dan H. Subhan Ismail (Partai Nasdem). Kegiatan itu dilakukan diskusi dan Tanya jawab dari peserta yang hadir guna untuk pembangunan OKI kedepan.

“selain itu untuk usulan dari masyarakat adalah dilakukannya pemekaran puskesmas Desa Penanggoan Duren. Pembangunan Poskesdes di Desa Tulung Selapan Timur, desa Simpang Tiga Abadi serta pembangunan Pustu di Desa Simpang Tiga dan Rantau Lurus,” ujarnya.

Lanjut dia, nah untuk puskesmas Tulung Selapan sendiri mengaharapkan adanya penambahan ruang jaga rawat inap, ruang jaga UGD, ruang jaga rawat inap kebidanan dan gudang obat. Dari semua usulan itu memang masyarakat berharaap segera terealisasi dengan alasan masyarakat sangat membutuhkannya. Selain itu dalam kegiatan Musrenbang tersebut mengusulkan adanya pembangunan los pasar di Selapan Ilir. Juga diharapkan adanya pembangunan siring jalan tepatnya di Desa Lebung Itam hingga menuju Tulung Selapan.

Masih diharapkan Erwin, untuk insfrastruktur sendiri, usulan yang masuk adalah pembangunan jalan cor setapak di Desa Pesisir, Simpang Tiga Makmur, Simpang Tiga Jaya, Simpang Tiga, Simpang Tiga  Sakti, Simpang Tiga Abadi, Rantau Lurus, dan Desa Kuala Duabelas.Terakhir yang diusulkan masyarakat disana adalah pembangunan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah di Tulung Selapan, dengan alasan sangat dibutuhkan.

Sekretaris BAPPEDA, membacakan sambutan bupati Iskandar SE, bahwa RKPD sebagai mana penjabaran rencana pembangunan jangka pannjang menengah daerah (RPJMD), harus melalui proses pada setiap tingkatan pemerintah dan harus melibatkan komponen masyarakat (stakeholder)). Sehingga asporasi masyarakat dapat diakomodir dalam perencanaan pembangunan.

”dengan berbagai macam permasalahan yang belum diselesaikan dan memiliki dampak jangka panjang, maaka harus dicermati secara cerdas dan diakomodir dalam penyusunan RKPD OKI tahun 2016 karena akan berimplikasi pada kesejahteraan masyarakat,” ungkapnya.

Dikatakan, apalagi kondisi infrastruktur terutama jalan, jembatan, dan air bersih, sanitasi, dan listrik belum memenuhi harapan masyarakat. Lalu juga masih rendahnya partisipasi dunia usaha (swasta) dalam pembangunan Kabupaten OKI. Maka untuk mengatassi permasalahan itu maka perencanaan difokuskan pada desa-desa tertinggal sekaligus penanggulangan kemiskinan yaitu dengan cara pembangunan infrastruktur jalan dan jembatan terutama dengan ibukota Kabupaten dan jalan poros desa. Lalu penyediaan air bersih, sanitasi dan listrik difokuskan pada desa dan kelurahan yang belum memiliki akses tersebut.

Murenbang Cengal

Murenbang Cengal

Kayuagung-Dalam pelaksanaan Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) di Aula Kantor Kecamatan Cengal, pada senin (12/1) lalu. Msyarakat melalui Kepala Desa (Kades) mereka tetap megusulkan agar infrastruktur jalan dan jembatan menjadi prioritas dalam pembangunan untuk masyarakat banyak terutama Cengal.

Kepala Bappeda OKI, Makruf CM SIP MM, melalui Sekretaris Ir Erwin Agusdy MP Mengungkapkan, bahwa dalam musrenbang tersebut yang dihadiri oleh Camat Cenal, Rosihan Anwar,

unsur UPTD, para kades, tokoh masyarakat, tokoh organisasi, kapolsek, dan tak lupa anggota DPRD Kabupaten OKI Abdiyanto (Partai PDIP), H Subhan Ismail (Partai Nasdem), Nanda (Partai Gerindra), dan Defit (Partai Hanura). Cukup banyak usulan dari masyarakat untuk pemerintah tetapi tetap yang menjadi prioritas adalah infrastruktur jalan dan jembatan.

Adapaun  yang diusulkan untuk jembatan meliputi jembatan Sungai Pasir dan Sungai Somor. Lalu untuk pembangunan jalan mulai dari Cengal-Talang Rimba hingga ke Simpang Tiga. Termasuk juga jalan yang menghubungkan menuju Tulung Selapan. Ruas Jalan itu dilakukan penimbunan dan pengerasan. Serta adanya dibangunkan 2 jembatan.

“Nah untuk penimbunan jalan juga diharapkan pada jalan di Desa Lebak Beriang. Kemudian adanya pembangunan jalan cor bertiang di Desa Pantai Harapan, Desa Adil Makmur dan Desa Sungai Lumpur. Termasuk juga peningkatan jalan di Desa Ulak Kedondong dan Desa Ulak Jeruju,” ujarnya.

Dikatakan , masyarakat juga menginginkan adanya pembangunan jalan dusun di Desa Talang Petai, Ulak Kedondong menuju Desa Adil Makmur, Pantai Harapan dan Desa Sungai Lumpur. Selain infrastruktur jalan dan jembatan, usulan dari masyarakat Kecamatan Cengal adalah pembangunan Sekolah setingkat SMA/SMK di daerah Pantai. Pembangunan gedung PAUD di Desa Ulak Kedondong, Palimbangan, Sungai Ketupak, Sungai Somor, Kuala Sungai Jeruju, Parit Raya dan Desa Kebon Cabe.

Kemudian lanjut Erwin, agar dilaksanakannya rehab sekolah tingkat SD di 21 sekolah termasuk didalamnya penambahan ruang kelas baru (RKB) di 12 sekolah yang tersebar. Nah untuk sekolah tingkat SMP agar ada bantuan penambahan mobile tepatnya di SMP N 2. Untuk bidang pertanian, masyarakat mengusulkan adanya lahan sawah. Yakni untuk Desa Sungai Jeruju seluas 500 hektar, ulak kedondong seluas 50 hektar dan Desa Pelimbangan seluas 200 hektar.

“Masyarakat dalam bidang pertanian meminta bantuan berupa pompa air, hand traktor, sarana produksi padi. Kemudian adanya jalan usaha tani dan tata air mikro. Terakhir usulan masyarakat Cengal kepada pemerintah adalah penyediaaan alat kontrasepsi serta penyediaan tenaga PPL KB,” ungkapnya.

Tak lupa Erwin menyampaikan sambutan Bupati OKI Iskandar SE, bahwa kegiatan musrenbang Kecamatan merupakan suatu rangkaian proses perencanaan yang komprehensif yang diatur dalam peraturan Perundang-undangan. Lalu rangkain itu dimulai dari musrenbang Desa sampai dengan Musrenbang Nasional, sehingga berarti sebelum dilaksanakannya Musrenbang Kecamatan terlebih dahulu diadakan Musrenbang Desa.

“Untuk perencanaan sangat diperlukan dalam rangka memenuhi kebutuhan masyarakat mengingat keterbatasan Sumber Daya Manusia (SDM), Sumber Daya ALam (SDA) dan Sumber Pendanaan. Sementara masih banyaknya permasalahan yang harus ditangani yakni seperti infrastruktur jalan, jembatan, air bersih, listrik, pelayanan pendidikan, kesehatan serta angka kemiskinan dan pengangguran yang tinggi, “ terangnya.

Ditambahkan, maka dengan adanya Musrenbang ini program kegiatan yang diusulkan baik melalui APBD, APBD Provinsi dan maupun APBN harus diprioritaskan untuk menjawab permasalahan tersebut sekaligus penurunan angka kemiskinan. Guna mendukung pembangunan itu dimulai dari desa agar diprioritaskan pembangunan seperti pembangunan PAUD dengan tujuan agar pembentukan karakter bangsa sejak dini.

Musrenbang Jejawi

Musrenbang Jejawi

Kegiatan musyawarah perencanaan pembangunan (Musrenbang) kecamatan Jejawi, yang dilaksanakan senin (12/1) laluyang dihadiri oleh camat Jejawi, Arie Mulawarman,SSTP,MM dan kepala Bappeda Kabupaten OKI langsung, Makruf CM, SIP.,MM. Bahwa masyarakat kecamatan Jejawi sangat mengharapkan adanya pengaspalan jalan desa sepanjang 3,5 KM.

Diungkapkan Kepala Bappeda, adapun jalan yang diharapkan pengaspalan jalan desa tersebut termasuk penimbunan jalannya, itu terdapat di desa padang bulan.

Bagi masyarakat desa jalan desa sangatlan diperlukan dengan alasan sebagai

jalan penghubung antar desa menuju desa lainnya dan kecamatan lain. Terpenting lagi adalah jalan apabila bagus maka masyarakat dalam membawa hasil bumi keluar desa menjadi cepat dan mudah. Sehingga akhirnya dengan adanya peningkatan jalan desa kesejahteraan masyarakat dapat tercapat.

Dalam kegiatan itu juga dihadiri oleh semua unsur muspida baik UPTD, polsek, danramil, para Kades, tokoh masyrakat dan serta lainnya. Tak lupa juga dihadiri oleh anggota DPRD OKI yakni Hj. Yusmin. Sehingga membuat para kades menyampaikan langsung usulan dari masyarakat dalam musrenbang tersebut.

Selain mengenai jalan, dikatakan Makruf masyarakat juga mengusulkan agar dilakukannya penambahan jaringan listrik PLN terutama untuk di dusun IV Desa Air Itam. Kemudian agar dilaksankannya pembangunan MCK di desa Lubuk Ketepeng. Lalu untuk dibidang pendidikan mengharapkan penambahan ruang kelas atau lokal sebanyak 3 lokal di SD Air Itam. Guna kemajuan pendidikan bagi generasi penerus.

“Juga mengharapkan adanya pengadaan mobiler di SD N 1 dan 3 pada Desa Lubuk Ketepeng, dengan alasan para siswa disana sangat membutuhkan utnuk proses belajar,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, tak lupa Kepala Bappeda Makruf, menyampaikan sambutan Bupati, guna mendukung visi pemerintahan kabupaten OKI tahun 2014-2019 yaitu terwujudnya masyarakat OKI yang maju, mandiri, sejahtera dan berlandaskan iman dan taqwa. Sehingga demi keberlangsungan dan keberlanjutan pembangunan Nasional dan pembangunan daerah, maka pemkab OKI setiap tahun menyusun rencana kerja pembangunan daerah (RKPD) yakni melalui kegiatan musyawarah perencanaan pembangunan (Musrenbang) kecamatan. Sehingga, RKPD sebagai penjabaran rencana pembangunan jangka panjang menengah daerah (RPJMD), harus melalui proses pada setiap tingkatan pemerintahan dan harus melibatkan komponen masyarakat (stakeholder). Sehingga aspirasi mastyarakat dapat diakomodir dalam perencanaan pembangunan.

Dijelaskannya, dihadapan para peserta yang hadir, apalagi jumlah penduduk miskin dan pengangguran masih cukup besar dan bukan hanya kabupaten OKI tetapi hampir seluruh Indonesia. Upaya mengatasi masalah tersebut bukan hanya pemerintah OKI tetapi melibatkan partisipasi aktif berbagai pelaku pembangunan untuk meningkatkan sinergi seluruh potensi pembangunan.

“Dengan berbagai permasalahan yang belum diselesaikan dan memiliki dampak jangka panjang, maka harus dicermati secara cerdas dan diakomodir dalam penyusunan RKPD OKI tahun 2016 karena akan berimplikasi pada kesejahteraan masyarakat,” katanya.

Lebih lanjut dikatakan, untuk mengatasi permasalahan itu maka perencanaan difokuskan pada desa-desa tertinggal sekaligus penanggulangan kemiskinan yaitu dengan cara pembangunan insfrastruktur jalan dan jembatan terutama dengan ibukota Kabupaten dan jalan poros desa. Lalu penyediaan desa air bersih, sanitasi dan listrik difokuskan pada desa dan kelurahan yang belum memiiki akses tersebut.

“Seperti untuk mempercepat penuntasan wajib belajar 9 tahun difokuskan pada perluasan program penuntasan buta huruf dengan kelompok pelajar paket A dan paket B, terpenting lagi penyediaan satu desa satu PAUD,” ungkapnya.

Dalam musrenbang adalah optimalisasi pertanian difokuskan pada intensifikasi dan ektensifikasi pertanian, tanaman pangan, perkebunan, peternakan, perikanan yang ditunjang penyediaan lembaga ekonomi masyarakat melalui satu desa satu KUD. Kemudian pengendalian harga melalui pasar murah, menjalin kerja sama agar pihak swasta lebih peduli terhadap lingkungan melalui program CSR. Lalu optimalisasi alokasi dana desa (ADD) agar difokuskan pada percepatan pembangunan insfrastruktur perdesaan.

Musrenbang Jejawi

Musrenbang Kayuagung

Kegiatan musyawarah perencanaan pembangunan (Musrenbang) Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) untuk minggu ketiga hari pertama dilaksanakan di balai kantor kelurahan Cintaraja. Yakni Musrenbang Kecamatan Kayuagung yang langsung dibuka oleh Kepala Bappeda OKI Makruf CM,SIP.,MM beserta camat Kayuagung Denny A Ariefson,SSTP.,MSi, kemarin (19/1).

Dalam kegiatan musrenbang tersebut juga dihadiri oleh perwakilan TNI, Kapolsek Kota Kayuagung, AKP Hendra Gunawan,SH, Para lurah, para kades sekecamatan Kayuagung,

UPTD serta tak ketinggalan setiap Musrenbang hadir anggota DPRD OKI Dapil I yakni Zumrowi (partai PKB) dan Abdul Hamid (partai Gerindra).

Musrenbang itu, cukup banyak usulan ynag disampaikan oleh para kades kepada narasumber yang hadir terutama kepada anggota DPRD baik itu secara lisan maupun tertulis. Dalam tanya jawab yang berlansung masyrakat desa terkhususnya mengharapakan adanya pembersihan lahan pertanian di areal pertanian di des mereka. Sehingga nantinya bisa dapat digunakan untuk bersawah atau berladang. Untuk pembersihan lahan pertanian itu terdapat didesa Arisan Buntal hingga desa Tanjung Menang yakni seperti pembersihan rumput setedok dan sebagainya.

Selain itu, masyarakat desa melalui kadesnya menyampaikan agar dibangunnya pintu air mulai dari desa Kijang Ulu dengan alasan para warga desa sering gagal tanam dan telah berlangsung sekitar 5 tahun. Sehingga diharapkan dengan adanya pintu air, gagal tanam tidak terjadi lagi.

Kepala Bappeda OKI Makruf CM,SIP.,MM didampingi camat Kayuagung  Denny A Ariefson, SSTP.,MSi juga mengungkapkan usulan dari masyarakat Kecamatan Kayuagung sebenarnya sangat banyak yaitu diantaranya normalisasi anak Sungai Lebak Teloko, sehingga nantinya masyarakat yang mata pencaharian di sungai yaitu dalam mencari ikan dan tambak lainnya dapat menjadi lebih baik

“Lalu untuk usulan lainnya adalah nantinya akan dilakukan perehapan kantor lurah Mangunjaya, begitu juga kantor lurah Sukadana dan Perigi termasuk juga jalan atau aksesnya.” Ujar Denny.

Selanjutnya, juga mengusulkan agar segera dilakukannya pembangunan kantor camat Kayuagung termasuk juga penambahan operasional kelurahan yaitu berupa mobiler, computer, alat tulis kantor. Terpenting lagi adalah penambahan sarana prasarana untuk di 11 kelurahan karena memang sangat dibutuhkan.

Nah dalamsetiap tahunnya sering diagendakan kegiatan Midang serta Bidar maka diharapkan agar dilakukannya perbaikan perahu sehingga pada saat acara bidar semua siap begitu juga kegiatan midang agar dianggarkan. Dengan alasan merupakan kegiatan rutin untuk masyarakat banyak. Lalu ada juga usulan berupa agar dilakukannya pemasangan conblok pada halaman Polsek Kota Kayuagung.

“Nah dari semua usulan masyarakat yang disampaikan oleh para lurah dan kades yang hadir baik secara tertulis maupun lisan, semuanya akan diusulkan dalam dokumen ditindaklanjuti. Kemudian akan direalisasikan pada 2016 mendatang.” Ungkap Denny diamini oleh Makruf.

Disampaikan Makruf mewakili Bupati OKI Iskandar,SE  guna mengatasi permasalahan yang ada di masyarakat, maka perencanaan di fokuskan pada desa-desa tertinggal sekaligus penanggulangan kemiskinan yaitu dengan cara pembangunan infrastruktur jalan dan jembatan terutama dengan ibukota Kabupaten dan jalan poros desa. Lalu penyediaan air bersih, sanitasi dan listrik difokuskan pada desa dan kelurahan yang belum memiliki akses tersebut.

“Untuk mempercepat penuntasan wajib belajar 9 tahun difokuskan pada perluasan program penuntasan buta huruf dengan kelompok pelajar paket A dan paket B, terpenting lagi penyediaan satu desa satu PAUD/TK/TPA,” ucapnya.

Selain itu ditambahkan, semua usulan diupayakan dan semuanya untuk kepentingan masyarakat. Yakni seperti menjalin kerja sama agar pihak swasta lebih peduli terhadap lingkungan melalui program CSR. Lalu optimalisasi alokasi dana desa (ADD) agar difokuskan pada percepatan pembangunan infrastruktur perdesaan.

Sementara itu anggota DPRD Zumrowi mengatakan, dalam hal pembangunan apa yang diusulkan oleh masyarakat tetap melalui skala prioritas, sehingga nantinya tidak salah guna atau tidak tepat guna. Selain itu pembangunan harus sesuai dengan kepentingan rakyat. Jadi kepentingan masyarakat bisa dipenuhi dan mengprioritaskan pembangunan dari desa. Dengan begitu dapat meningkatkan taraf kehidupan masyarakat.